CARAPANDANG.COM, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia (RI) memproyeksikan tingkat pertumbuhan ekspor biodiesel tahunan ke Uni Eropa (UE) akan tetap berada pada tingkat 6,7 persen, menyusul kemenangan Indonesia dalam sengketa panel Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) terkait bea masuk imbalan (countervailing duties/CVD).
"Kami tentu berharap proyeksi ekspor biodiesel kita tetap tumbuh di angka 6,7 persen," ujar Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag RI Djatmiko Bris Witjaksono, dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (28/8).
Menurut Kemendag, ekspor biodiesel Indonesia mengalami fluktuasi dalam satu dekade terakhir, dengan penurunan tercatat pada 2020-2021 setelah pemberlakuan CVD pada 2019. Penurunan ini juga dipengaruhi oleh pandemi COVID-19 dan merosotnya ekspor biodiesel global.
Meski demikian, pada periode CVD dari 2020 hingga 2024, ekspor biodiesel Indonesia ke UE tetap tumbuh sebesar 6,7 persen, dengan nilai rata-rata tahunan mencapai 319,7 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.356).
Djatmiko menekankan Indonesia juga harus menyeimbangkan ekspor dengan kebutuhan dalam negeri, sesuai dengan target transisi energi nasional. Konsumsi biodiesel nasional diperkirakan mencapai 15,6 juta kiloliter pada 2045, yang dapat mempengaruhi volume ekspor di masa depan.
"Kalau kita lihat angka 6,7 persen tersebut, itu bisa tetap dipertahankan atau bahkan tumbuh," katanya.